Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Ciamis Punya Kampung Toleransi, Tempat Ibadah Berhadapan Tanpa Masalah

Skintific

Kampung Susuru, Oase Toleransi di Ciamis yang Jadi Simbol Harmoni Antariman

Koran Bogor- Di tengah gemuruh intoleransi yang kerap menghiasi pemberitaan nasional, sebuah kampung kecil di Ciamis, Jawa Barat, justru menghadirkan narasi yang berbeda. Namanya Kampung Susuru, sebuah dusun sederhana yang menyimpan makna luar biasa: hidup dalam perbedaan, tumbuh dalam kerukunan.

Kampung ini tak hanya menyajikan keindahan alam pegunungan dan sawah yang menyejukkan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keragaman agama bisa menjadi kekuatan, bukan ancaman. Warga Muslim, Katolik, Protestan, hingga penganut kepercayaan lokal Sunda Wiwitan hidup berdampingan—bukan sekadar toleran, tetapi benar-benar menyatu dalam keseharian.

Skintific
Ciamis Punya Kampung Toleransi, Tempat Ibadah Berhadapan Tanpa Masalah
Ciamis Punya Kampung Toleransi, Tempat Ibadah Berhadapan Tanpa Masalah

Baca Juga : Penipuan di Bogor: Nenek 71 Tahun Rugi Rp30 Juta oleh Komplotan ‘Donatur Palsu

Simbol Fisik Toleransi: Rumah Ibadah Berdiri Berdampingan

Di banyak tempat, rumah ibadah dari agama yang berbeda kerap terpisah jarak dan tersembunyi dari pandangan. Namun tidak di Susuru. Di sana, masjid berdiri berdampingan dengan gereja, bale penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan berhadapan langsung dengan pondok pesantren. Tidak ada pagar tinggi, tidak ada sekat sosial.

Warga tidak merasa perlu saling menjauh karena perbedaan keyakinan. Justru mereka merasa lebih dekat karena terbiasa hidup dalam ruang yang sama—menghormati, memahami, dan menjaga satu sama lain.

Momen Keagamaan Menjadi Perayaan Bersama

Ketika Idul Fitri tiba, umat Kristen dan penghayat tradisi lokal turut datang bersilaturahmi ke rumah-rumah Muslim. Sebaliknya, pada saat Natal atau Paskah, warga Muslim membantu mempersiapkan makanan, mengatur kursi, dan bahkan ikut meramaikan acara.

Tidak ada yang merasa tersisih. Tak perlu surat edaran atau seruan pejabat untuk menggerakkan toleransi. Di Kampung Susuru, semuanya tumbuh secara alamiah dari hati dan tradisi turun-temurun.

Waktu Ibadah yang Disesuaikan, Bukan Diperebutkan

Satu hal yang membuat Susuru istimewa adalah kesadaran kolektif dalam menjaga kenyamanan beribadah. Ketika masjid mengadakan acara besar, warga non-Muslim menyesuaikan aktivitas mereka agar tidak mengganggu. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada suara gaduh, tidak ada konflik volume toa, tidak ada rebutan ruang ibadah.

Semua pihak memahami bahwa kedamaian bukan hanya tanggung jawab tokoh agama atau pemimpin adat, tetapi menjadi kewajiban seluruh warga.

Pujian dari Pemimpin Daerah hingga Akademisi

Kampung Susuru sempat mencuri perhatian Dedi Mulyadi, mantan Gubernur Jawa Barat yang juga dikenal sebagai tokoh budaya. Ia datang langsung ke kampung ini dan menyampaikan kekaguman atas suasana harmonis yang terjalin antarumat beragama.

“Kalau semua kampung di Indonesia seperti Susuru, mungkin kita tidak lagi sibuk bicara soal perpecahan,” ujar Dedi dalam kunjungannya.

Tak hanya pejabat, para peneliti dan akademisi juga menjadikan Susuru sebagai contoh nyata moderasi beragama. Tidak seperti teori di ruang kelas, Susuru memberikan bukti langsung bahwa keberagaman bisa dirawat dengan budaya lokal seperti silih asah, silih asih, silih asuh—konsep hidup bersama yang berakar kuat dalam filosofi Sunda.

Toleransi: Warisan Leluhur yang Terus Dijaga

Toleransi di Kampung Susuru bukan proyek instan, bukan pula hasil program pemerintah. Ini adalah warisan leluhur, nilai yang sudah diajarkan sejak kecil oleh orang tua, guru, tokoh adat, dan sesepuh kampung.

Gotong royong masih menjadi nafas warga. Pembangunan rumah ibadah pun sering melibatkan seluruh komunitas, terlepas dari agama apa yang dibangun. Inilah esensi dari Bhinneka Tunggal Ika yang hidup, bukan sekadar semboyan di lambang negara.

Kampung Kecil, Teladan Besar

Di tengah maraknya ujaran kebencian dan konflik horizontal, Kampung Susuru berdiri tegak sebagai cermin Indonesia yang seharusnya—berbeda-beda tapi tetap satu. Sebuah miniatur bangsa yang menunjukkan bahwa perbedaan agama, suku, dan kepercayaan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipelajari dan dihargai.

Susuru bukan sekadar titik di peta. Ia adalah pelajaran hidup tentang bagaimana kita bisa bersatu tanpa harus sama, dan berbeda tanpa harus bermusuhan.

Skintific