Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Melacak Jejak Kutang Suroso Pelopor Industri BH Kelas Rakyat

Skintific

Bogor – Melacak Jejak Kutang Di tengah riuh pasar tradisional dan lorong sempit kampung pengrajin, ada satu nama yang melegenda—bukan karena jabatan tinggi atau gelar akademis, tapi karena satu benda sederhana yang dekat dengan keseharian perempuan: kutang alias BH.

Dialah Suroso, pria asal Jawa Tengah yang namanya pelan-pelan menjadi simbol industri rumahan yang membumi. Orang menyebutnya dengan penuh hormat (dan sedikit geli): “Kutang Suroso”.

Skintific

Tapi jangan salah. Di balik namanya yang mengundang senyum, jejak Suroso adalah kisah ketekunan, kreativitas, dan kejelian membaca kebutuhan pasar rakyat.

 Dari Mesin Jahit Butut ke Pasar Nusantara

Melacak Jejak Kutang
Melacak Jejak Kutang

Baca Juga : Fortuner Tabrak Mobil Listrik di Tanah Sareal Bogor, 1 Orang Terluka

Cerita bermula di tahun 1980-an di sebuah desa di Klaten. Kala itu, Suroso hanya punya satu mesin jahit tua dan sedikit kain sisa. Alih-alih menjahit baju biasa, ia melihat celah pasar: banyak ibu-ibu yang butuh BH murah, nyaman, dan bisa dibeli eceran di pasar.

Ia mulai bereksperimen—menggunting, menjahit, membentuk. Tak lama kemudian, kutang-kutang hasil produksinya mulai laris manis di pasar-pasar sekitar. Bukan hanya karena harganya miring, tapi karena pas di badan dan tahan lama.

“Wong cilik butuh kenyamanan, bukan kemewahan,” ujar Suroso dalam salah satu wawancara langka di awal 2000-an.

 Kekuatan dari Balik Kain

Yang membuat Suroso berbeda bukan cuma produknya. Tapi bagaimana ia membangun ekosistem. Ia melatih ibu-ibu rumah tangga untuk menjahit, menciptakan jaringan distribusi informal, dan memfasilitasi pembelian dalam jumlah kecil.

Tak ada pabrik besar. Yang ada hanyalah rumah-rumah sederhana yang berubah jadi unit produksi. Model industri rumahan ini bahkan jadi inspirasi banyak UKM di sektor tekstil rumahan lain.

BH produksi Suroso bukan untuk butik atau mal. Tapi untuk gerobak, kios pasar, warung kelontong, bahkan lapak kaki lima. Dengan begitu, kutang tidak lagi barang “mahal” atau “asing” bagi kelas bawah. Ia menjadi bagian dari keseharian.

Dulu Dianggap Remeh, Kini Jadi Ikon Industri UMKM

Di awal kiprahnya, banyak yang menganggap Suroso “nggak keren”. Apa hebatnya jualan kutang? Tapi waktu membuktikan: produk yang dekat dengan kebutuhan dasar rakyat, akan selalu punya tempat.

Kini, jejak “Kutang Suroso” masih bisa ditemui di berbagai daerah Jawa Tengah hingga ke Sumatera dan Kalimantan, meskipun sang pelopor telah tiada. Merek dagangnya mungkin tak sebesar brand internasional, tapi dampaknya nyata: menyerap tenaga kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan membuka lapangan usaha baru.

Tak sedikit pula pedagang eceran yang sukses menyekolahkan anaknya, membangun rumah, atau naik haji—semuanya dari hasil jualan kutang produksi Suroso.

Penutup: Pahlawan Tanpa Label, Pengusaha Tanpa Panggung

Di era digital penuh startup dan branding yang megah, nama Kutang Suroso mungkin terdengar kuno. Tapi dari beliau, kita belajar satu hal penting: inovasi tidak selalu soal teknologi tinggi—tapi soal kepekaan pada kebutuhan orang kecil.

 Tapi jauh di balik itu, jejak Suroso tetap terjahit rapi dalam sejarah industri kecil Indonesia.

Skintific