BOGOR – Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menutup sementara aktivitas tambang di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor, termasuk Parung Panjang, menuai penolakan. Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Cigudeg, Rumpin, Parung Panjang, dan Tenjo menyuarakan keberatan mereka melalui video yang beredar di media sosial.
Aliansi Warga Nyatakan Penolakan
Dalam rekaman tersebut, perwakilan aliansi menegaskan sikap mereka menolak penghentian kegiatan penambangan. Mereka menilai kebijakan tersebut merugikan banyak pihak yang menggantungkan hidup dari aktivitas tambang.
“Kami Aliansi Masyarakat Kecamatan Parung Panjang, Kecamatan Rumpin, Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Tenjo menolak kebijakan Gubernur Jawa Barat atas penghentian kegiatan perusahaan tambang di wilayah kami,” tegas pernyataan mereka.
Menurut warga, penutupan tambang akan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Banyak pekerja tambang, sopir truk, hingga pelaku usaha angkutan terancam kehilangan mata pencaharian.
baca juga: ikap Terbakar Saat Antre BBM di Sentul Bogor Diduga gegara Korsleting
Gubernur Dedi: Saya Paham Kekecewaan Warga
Menanggapi penolakan itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pernyataan melalui akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71. Ia mengaku memahami kegelisahan, kekecewaan, bahkan kemarahan masyarakat atas kebijakannya.
“Saya paham para penambang kehilangan pendapatannya. Para pengusaha angkutan kehilangan pemasukannya. Sopir-sopir truk tronton kehilangan pekerjaannya. Saya paham banyak pihak yang dirugikan karena kebijakan ini,” kata Dedi, Senin (29/9/2025).
Meski demikian, Dedi menegaskan keputusan penutupan tambang diambil dengan pertimbangan serius, khususnya faktor keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Catatan Kecelakaan: 195 Jiwa Melayang
Dedi mengungkapkan data mengejutkan terkait tingginya angka kecelakaan lalu lintas di kawasan Parung Panjang dan sekitarnya. Sejak 2019 hingga 2024, tercatat 195 orang meninggal dunia akibat terlindas truk, tersenggol, maupun bertabrakan. Sementara itu, 104 orang lainnya mengalami luka berat.
“Pertanyaannya, ke mana Anda semua ketika ada anak-anak kehilangan bapaknya, banyak suami kehilangan istri, kakak adik kehilangan saudara? Ada tangis pilu ketika mereka jatuh di jalanan terlindas truk-truk besar,” tegas Dedi.
Menurutnya, angka kematian tersebut sudah sangat memprihatinkan dan tidak bisa lagi diabaikan.
baca juga: Polsek Cileungsi Bagikan Bantuan Beras Warga Bogor Antusias
Dampak Kesehatan dan Kerusakan Ekosistem
Selain kecelakaan, Dedi menyoroti masalah kesehatan warga. Debu dari aktivitas tambang dan lalu lintas kendaraan berat menyebabkan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kawasan Parung Panjang.
“Berapa angka depresi lahir dari jalanan yang setiap hari bergumul dengan maut dan debu? Berapa hancurnya ekosistem di sekitar Parung Panjang?” ujarnya.
Ia menilai penutupan sementara tambang merupakan langkah penting untuk memulihkan kondisi lingkungan dan melindungi kesehatan masyarakat.
Penutupan Tambang Demi Keadilan Ekologis
Dedi menegaskan dirinya bertindak bukan hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai penanggung jawab keberlanjutan ekosistem. Menurutnya, kebijakan ini tetap mempertimbangkan aspek ekonomi, namun keadilan ekologis tidak bisa diabaikan.
“Saya bertindak atas nama ekosistem, atas nama keadilan, dan tentu tetap memperhatikan aspek ekonomi,” pungkas Dedi.






