Bogor – Teka teki Mbah Darmaji seorang pria lanjut usia yang disebut-sebut tinggal di Gua Anggas Wesi di kawasan perbukitan Blitar, Jawa Timur, kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat setempat. Sosoknya dianggap misterius, penuh teka-teki, namun juga dihormati banyak warga karena dianggap memiliki pengetahuan spiritual dan kebijaksanaan yang mendalam.
Sejak beberapa bulan terakhir, sejumlah pendaki dan warga sekitar Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, mengaku sering melihat Mbah Darmaji keluar masuk gua dengan tenang, membawa wadah air dan beberapa helai daun yang diyakini digunakan untuk pengobatan tradisional. Kehadirannya yang jarang terlihat di siang hari membuat sosoknya semakin menarik perhatian.
“Beliau itu orangnya halus, sopan, dan jarang bicara. Tapi kalau diajak ngobrol, nasihatnya dalam sekali. Banyak warga yang datang cuma untuk minta doa atau petuah,” ungkap Sumadi (54), warga Sumberasri yang sering mengantar pengunjung ke sekitar lokasi gua.
Gua Anggas Wesi dan Aura Mistisnya

Baca Juga : DPRD Kota Bogor-Pemkot Bogor Gelar Rapat Paripurna
Gua Anggas Wesi sendiri terletak di lereng bukit kapur yang masih alami. Suasananya sejuk dan sunyi, dengan pepohonan besar yang menaungi jalan setapak menuju mulut gua. Sejak dulu, tempat ini dikenal memiliki nilai sejarah dan spiritual, dipercaya sebagai lokasi semedi para leluhur di masa lampau.
Menurut catatan warga, gua ini baru ramai diperbincangkan setelah beberapa pengunjung melihat asap tipis dan nyala api kecil di dalamnya saat malam hari. Setelah ditelusuri, ternyata sumbernya berasal dari tungku sederhana milik seorang kakek tua — yang kemudian diketahui bernama Mbah Darmaji.
“Kami awalnya mengira ada orang tersesat. Tapi ternyata Mbah Darmaji memang tinggal di situ. Katanya sudah bertahun-tahun, entah sejak kapan,” ujar Sulastri (39), pedagang kelapa muda di sekitar kawasan wisata Anggas Wesi.
Hidup Sederhana dan Penuh Laku
Dari penuturan beberapa warga, Mbah Darmaji hidup dengan sangat sederhana. Ia membuat tempat tidur dari anyaman bambu dan memanfaatkan batu besar sebagai meja. Makanan sehari-harinya hanya berupa singkong rebus, daun-daunan, dan air dari sumber mata air gua.
Meski begitu, kesehatannya terlihat prima. Warga sering terkejut melihatnya berjalan jauh tanpa alas kaki dan memanjat bukit tanpa terlihat lelah. Banyak yang percaya, Mbah Darmaji menjalani laku tapa brata — bentuk meditasi dan pengendalian diri dalam tradisi kejawen kuno.
“Beliau sering bilang bahwa hidup harus selaras dengan alam. Jangan banyak mengeluh, cukup bersyukur. Itu yang selalu diingatkan ke kami,” ujar Kasmari (67), salah satu warga yang sering memberi makanan untuk Mbah Darmaji.
Tidak Menginginkan Popularitas
Ketika beberapa wartawan mencoba mendekatinya, Mbah Darmaji menolak untuk diwawancarai secara langsung. Ia hanya tersenyum dan berkata singkat,
“Aku cuma tamu di bumi, Nak. Yang penting jangan ganggu alam, nanti alam juga menjaga kita.”
Kalimat sederhana itu justru semakin membuat masyarakat penasaran. Siapa sebenarnya Mbah Darmaji? Dari mana asalnya? Beberapa orang menduga ia dulunya seorang guru spiritual atau bahkan mantan prajurit yang memilih hidup menyepi setelah masa pensiun. Namun, tidak ada data resmi atau keluarga yang muncul mengonfirmasi hal tersebut.
Disakralkan oleh Sebagian Warga
Bagi sebagian masyarakat di sekitar Blitar, sosok Mbah Darmaji kini mulai dianggap sebagai tokoh yang memiliki aura spiritual kuat. Banyak yang datang ke gua untuk sekadar bersilaturahmi, meminta doa kesembuhan, atau mencari ketenangan batin.
“Saya pernah sakit lambung lama, sudah berobat ke mana-mana. Setelah ke sana, Mbah cuma kasih air dari sumber dan disuruh banyak istighfar. Alhamdulillah sembuh,” kata Siti Rahma (45), warga dari Tulungagung.
Kendati demikian, pihak desa mengimbau agar masyarakat tidak mengkultuskan atau mempercayai hal berlebihan terkait Mbah Darmaji. Kepala Desa Sumberasri, Suparno, menegaskan bahwa keberadaan beliau harus dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal, bukan hal mistis yang perlu disembah.
“Kami menghormati beliau sebagai warga senior dan penjaga alam. Tapi jangan sampai ke arah pemujaan. Lebih baik kita ambil nilai positifnya, yaitu hidup sederhana dan menjaga lingkungan,” tegas Suparno.
Dijaga oleh Warga, Dihormati oleh Alam
Meski tinggal sendirian, Mbah Darmaji tidak pernah kesulitan. Warga sekitar sering mengantarkan kebutuhan pokok seperti beras, garam, dan minyak. Namun, sebagian besar bantuan itu justru ia kembalikan.






